TAYANGAN TELEVISI : “ASYIK TAK MENDIDIK , MENDIDIK TAPI TAK ASYIK”

 1314428381660890757

           Suguhan acara televisi memang sangat variatif untuk memenuhi selera pemirsanya yang beragam, namun demikian semua mata acara tersebut dikemas dalam bentuk acara hiburan, karena menurut Dominick kekuatan yang dominan pada televisi adalah sebagai medium hiburan[1] Selayaknya tanpa mengesampingkan unsur media massa  untuk memberikan informasi dan edukasi.

          Dewasa ini televisi melalui program-program acaranya banyak dikritik, baik oleh pemerhati media, aktivis sosial, pendidikan, maupun HAM. Televisi dinilai belum memaksimalkan fungsi pendidikan yang dimilikinya.[2]

       Menurut survei yang dilakukan oleh Yayasan Science dan Estetika, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yayasan Tifa, serta Departemen Komunikasi dan Informatika, berbagai acara hiburan di televisi dinilai buruk oleh kalangan masyarakat.[3]

      Dengan fungsi pendidikannya, sepertinya wajar ketika televisi dan media massa lainnya kita masukkan ke dalam salah satu komponen tujuan nasional yang diproses dalam sebuah pembangunan bangsa Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian menurut Darwanto [4], peranan media massa dalam pembangunan nasional adalah sebagai agen pembaharu (agent of social change), dalam hal ini membantu proses peralihan masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

          Perkembangan program televisi dikemas dari segala sisi, ada belasan saluran TV dengan skala cakupan siaran nasional dan puluhan atau bahkan ratusan stasiun TV lokal di tiap wilayah. Semua berlomba menayangkan acara terbaik agar ditonton banyak orang guna meningkatkan rating dan akhirnya pemasukan pendapatan dari iklan pun mengalir deras.

       Dengan alasan keberlangsungan industri pertelevisian, maka program  ditelevisi lebih memberikan suguhan hiburan yang dominan, program-program televisi yang menjual mimpi tanpa melintasi realita yang sesungguhnya membuat banyak khalayak televisi terbuai dengan impian yang dirangkai dalam bentuk skenario hiburan dan daya jual sebuah pertunjukkan yang  ASYIK TAPI TAK MENDIDIK, hanya beberapa program televisi yang benar-benar  mengacu pada realitas dan itu pun harus dibumbui  agar tetap menarik seperti pada program-program feature atau dokumenter  televisi.

          Televisi Cenderung mengabaikan isu-isu mendalam. Menyadari bahwa setiap program secara otomatis akan diikuti oleh berbagai kalangan, maka dalam proses produksi pihak produser selalu mempertimbangkan aspek kemudahan untuk dicerna. Meskipun isu yang diangkat sangat serius dan rumit, seperti masalah cloning tetapi penyajiannya harus mudah dipahami oleh khalayak. Kalau pada menit-menit pertama penyajian program terasa tidak menarik, dan membosankan tentu banyak pemirsa akan segera mengalihkan channel TV-nya. Karena kompromi dengan kepentingan menciptakan daya tarik agar khalayak bertahan di depan layar kaca, maka persoalan serumit apa pun harus dipermudah, diperingan, dan konsekuensinya tentu tidak bisa mendalam. Pembahasan hanya menyentuh pada aspek-aspek yang dianggap menonjol dan menjadi pusat perhatian umum. Padahal, akar permasalahan dari suatu kasus biasanya justru terletak pada bagian yang rumit, dan tidak terlihat secara mencolok. Ketidakmampuan menjelaskan sesuatu secara mendalam ini memang menjadi titik lemah tersendiri bagi televisi sebagai media pendidikan[5].

AKSI SIMPATIK

          Pemirsa televisi kiranya perlu paham benar bahwa frase ‘menonton televisi’, bukan sekedar frase mati yang tanpa pemahaman. Lebih jauh lagi, menonton televisi dinilai dapat membentuk budaya masyarakat.Michael K. Saenz[6]  mengatakan bahwa “television viewing provides a prominent occasion for viewers construction of culture” (Dari menonton televisi seseorang mendapat sebuah informasi atau ilmu pengetahuan yang menjadi referensi, mempengaruhi pola prilakunya sehari-hari).

             Jika kita mengacu pada tayangan yang bertujuan mendidik dan mencerdaskan seperti di TV publik (TVRI), maka sedikit harapan untuk bisa di minati pemirsa di karenakan kemasan dan perencanaan program yang jauh dari kesan menarik, MENDIDIK TAPI TAK ASYIK, mindset TVRI sebagai TV milik pemerintah yang tua dan kuno serta tidak adanya satu tayangan pun yg bisa bersaing dengan TV swasta, menambah keraguan, Walau kini tampaknya TVRI kian berbenah.

                Maka Sebagai Upaya Pemenuhan Fungsi Media massa, to educate , to information, to entertainment maka perlu adanya sebuah formula yang bisa mengkombinasikan dan menggandeng semua fungsi menjadi sebuah produk atau program yang tidak hanya mengandalkan kuantitas tapi juga menghadirkan kualitas (nilai bobot) yang  seimbang, YANG ASYIK  DAN MENDIDIK , sebagai upaya peningkatan pemahaman dan kecerdasan bangsa, Hal ini mesti di landasi dari nurani dan kerjasama Insan televisi dengan berbagai macam pihak, bentukan formula tersebut bisa di rangkum dengan tema  EDUTAIMENT yg selama ini di dengungkan tapi sedikit yang merealisasikan menjadi sebuah produk atau tayangan  bagi masyarakat indonesia tercinta, karena jika kita kembali pada Teori agenda setting media massa lah yang berperan menentukan apa yang pantas dan layak untuk di jadikan tayangan bagi para audience nya.

      anak tv

 


[1]Ibid. 18

[2]Di akses pada tanggal 11 april 2012   dari http://kominfo.banjarmasinkota.go.id/2011/11/kominfo-banyak-tayangan-media-menyimpang/

[3]Di akses pada tanggal 11 april 2012  dari http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/04/Nasional/krn.20081204.150017.id.html

[4]Darwanto ,“Televisi Sebagai Media Pendidikan”, 2007

[5]A.Darmanto (2007, Agustus:)Membangkitkan Kembali wacana televisi pendidikan

[6]Michael K. Saenz . “Television Viewing as a Cultural ” in Television: The Critical View, ed. Horace Newcomb, 5th ed.( New York: Oxford Uni-). 1994.  hal 573

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s