KENALI EDITING DOKUMENTER BARENG KANG CESA DAVID #REPOST :)

DOClinic #6  In-Docs Library  Selasa, 19 Juli 2005 – Tema: Pasca Produksi

Mentor:

Cesa David

Peserta:

Tomo, (casiopea_asayake@yahoo.com), (021) 7362122, 08161118274

Arnanda Chairal, (nando@yahoo.com), (021) 7306280, 08158519415

Gusti Citra Yudha, 081311197141

Anton Mabruri, 081514337380

Moderator:

Dipo Alam, (allmighty_d@yahoo.com), 08176710248

Notulis:

Muvita Sari

 

Dipo: terima kasih teman-teman dah dateng di DOClinic bulan Juli. Mungkin langsung aja dimulai diskusi aja ya.

Cesa: bikin dokumenter itu seru. Kita bikin dokumenter itu untuk mengungkap sesuatu yang belum diketahui. Kalau kita udah tahu, semua orang sudah tahu, ya males jadinya.

Nonton film tentang bermain ski di pegunungan saat musim salju, ada gambar salju luruh, terus dibahas :

Cesa: nah, ini pasti dia kan riset dulu. Dia datang ke lokasi, ngobrol sama penduduknya. Salju luruh, itu moment. Mungkin bukan film makernya yang bikin, tapi ada orang-orang yang punya footage-nya.

Peserta 1 : kalau kaya National Geographic itu kan ada yang bikin tentang binatang buas, macan misalnya, itu gimana?

Cesa: ya itu pasti udah disiapin. Gak mungkin dia ngambil gambar macannya dari deket, langsung gitu. Dia pakai lensa khusus di kameranya. Ada juga dokumenter yang di-direct, mungkin termasuk itu juga. Mungkin juga bukan film maker-nya yang langsung ngambil gambar. Kalau di Amerika itu ada perusahaan yang jual footage.

Semua film itu dulunya dokumenter. Awalnya Lumier, dia seorang pembuat kamera, ketika itu dia ngambil gambar orang bubaran pabrik. Masa itu dinamakan jaman Realisme. Maksudnya semuanya real, apa yang ada di depan dia, ya itu yang diambil. Sekarang mungkin gue akan jelasin sedikit tentang sejarah editing. Kenapa perlu tahu sejarah editing? Karena ada orang-orang yang ketika membuat film, mereka menggunakan konsep-konsep dalam pembabakan sejarah editing.

Ada tiga periode atau tiga jaman dalam sejarah editing, yaitu realisme, classicisme, dan formalisme. Pada jaman realisme belum ada editing. Tokohnya ya itu tadi, Lumier. Antara jaman realisme dan classicisme sudah dimulai yang namanya cutting to continuity. Cut kalau di editing itu kan artinya menyambung atau memotong. Nah, kalau cutting to continuity itu maksudnya motong untuk nyambung cerita dan ada set yang berubah. Sudah  mulai ada cerita yang mau dibangun. Tokoh yang menjadi pelopor cutting to continuity itu namanya Melias. Terus jaman classicisme. Nah di jaman ini editing yang dilakukan  udah bener-bener editing. Di jaman ini yang ada gak cuma cutting to continuity, tapi juga udah mulai cutting to clarify, cutting to underline, cutting to connect, dan cutting to dramatize. Tokoh jaman ini adalah DW Griffith. Dia adalah Bapak Film. Dia udah mulai gunain cutting, close up, intinya udah mulai ada dramatisasi, misalnya kalau di panggung itu lagi adegannya cewek nangis, ya di-close up ke cewek itu. Sebenarnya sama antara Melias sama Griffith itu berangkatnya dari pentas panggung. Tapi kalau Melias, kameranya itu dibikin wide terus, jadi semua yang ada di  pentas panggung itu kelihatan. Entah itu nangis, entah itu marah, tetep gitu aja kameranya. Tapi kalau Griffith dah mulai ada dramatisasi. Kalau lagi adegan sedih, dia close up cewek nangis. Jaman ini beda sama jaman cutting to continuity.

 

Peserta 1: kalau film yang bisu itu?

Cesa: sampai jaman classicism itu masih bisu. Tapi udah ada musik, dari piano. Karena pas muter filmnya itu pasti diiringi sama orang yang main piano, yang ikut ngebangun suasana. Nah, balik lagi ke Griffith tadi, dia juga sudah mulai pakai yang namanya dekupase/decoupage. Decoupage itu artinya pemecahan shot, jadi scene dipecah-pecah, dibagai menjadi beberapa shot.

Peserta 1: terus yang nentuin bikin decoupage itu siapa?

Cesa: ya tetep director. Seorang director yang wise itu yang open mind. Sekarang kalau menurut lo, editing itu apa sih?

Peserta 1: menurut gue editing itu motong dan milih gambar sesuai skenario.

Peserta 2: gue, sama sih, terus adegan yang terbaik itu disambung.

Peserta 3: gue mau nambahin, selain yang udah dibilang sama mereka berdua, dalam editing ada unsur membangun cerita juga.

Cesa: OK, milih dan motong  itu bener. Editing tu ada unsur milih dan motong gambar. Kalau dulu, sebelum ada komputer ya bener-bener dipotong. Pita itu ya bener-bener dipotong terus disambung gitu. Jadi rol-rol film itu pitanya dipotong-potong untuk diambil yang bagus terus disambung. Meja yang dipakai buat motong dan nyambung itu namanya splyzer. Makanya kalau lo lihat film jaman dulu kan kayanya loncat-loncat tiap ganti shot kan. Nah, kalau membangun gimana? bener juga. Jadi editing itu memilih dan memotong shot untuk membangun cerita. Menurut gue editing gak terlalu teknis, karena dalam editing tu yang penting editorial thinking-nya. Kalau untuk teknis lo tinggal beli aja software-nya.

Peserta 2: kalau dalam editing itu, feeling bermain gak?

Cesa: ya lah. Feeling itu main. Kalau kata temen-temen gue, ngapain kuliah jauh-jauh ke IKJ kalau cuma mau belajar komputer, di sana gue belajar editroal thinking-nya. Gak semua editor punya soalnya, karena mereka terjebak dalam software

Editorial thinking juga terkait dengan  yang namanya juksta posisi, maksudnya ada kemungkinan shot-shot untuk diubah-ubah posisinya atau susunannya, yang nanti akan memunculkan arti yang berbeda-beda. Misalnya nih ada gambar muka cemberut, semangkuk mie, sama gambar muka tersenyum. Kalau gambar-gambar itu ditaruh  dengan urutan muka cemberut, semangkuk mie, terus muka tersenyum, artinya apa?

 

Peserta 1: tadi orang itu lapar, makanya mukanya cemberut, terus ada semangkuk mie, dia makan, sekarang kenyang, jadi dia tersenyum.

Cesa: nah, bisa diartikan begitu kan? kalau posisinya ditukar jadi muka tersenyum, semangkuk mie dan muka cemberut gimana?

Peserta 2: mie-nya gak enak kali.

Cesa: nah, tu kan, kalau shotnya diubah, maknanya akan beda kan? jadi editing itu gak cuma sekedar potong sambung. Bedanya editing dalam film sama dokumenter, kalau di film kita paling gak harus pernah ngalamin, tapi kalau di dokumenter kita pengen tahu. Kita gak tahu sebelumnya.

Peserta 1: untuk juksta posisi itu yang mutusin editor atau director-nya?

Cesa: directornya. Director yang bagus itu harus bisa menggaet pekerja kreatifnya. Dia gak pernah ngatur teknis, tapi cuma ngarahin dan selalu diskusi sama pekerja kreatifnya yang lain. Jadi pekerja kreatifnya gak berasa jadi tukang. Bikin film itu kan butuh kerja sama, semua harus punya peran. Jadi kalau lo bikin film, terus ribut, bikin film gak mungkin gak ribut, mendingan ributnya pas pra produksi aja. Biasanya sebelum mulai produksi ada yang namanya script conference, di situ director bacain konsep, semuanya, dari kostum sampai editing. Habis itu semua kasih masukan, debat, berantem deh di situ. Tapi berantem biar hasil film itu bener-bener bagus. Di situ editing juga kasih masukan. Film itu kan ditulis dengan 3 cara, dengan pena, melalui skenario, dengan kamera, waktu syuting, dan dengan editing.

Dipo: kalau di dokumenter,editornya gimana, musti ikut ke lokasi atau gak?

Cesa: kalau dokumenter, sebaiknya editor ikut, untuk ngebangun atau menjalin emosi.  Bisa juga pas pra produksi-nya ikut, tapi pas syuting gak ikut juga gak pa-pa.

Dipo: kalau di dokumenter kan jalurnya banyak info. Kadang semakin punya banyak moment malah bingung mau nge-cut-nya gimana. Itu gimana ya?

Cesa: emang beda sih antara ngedit dokumenter sama ngedit film fiksi. Kalau dikumenter itu kita ngedit dulu di atas kertas, namanya paper edit. Itulah kenapa editor harus nonton semua hasil yang di dapat di lapangan. Jadi sambil nonton juga sambil nyatet time code-nya, terus type of shot-nya, pokoknya harus detail sampai deskripsi shot-nya juga. Terus musti diperhitungkan juga, gambar bagus gak, tc in, tc out (tc : time code). Editor selain ngelihat juga nyatet shot-shot yang sekiranya menarik dan bisa dimasukin.

OK, sekarang balik dulu ke definisi editing. Jadi negara pelopor film itu kan ada Rusia, Perancis, India, Italia dan Jepang. Kalau Rusia itu, film bukan cuma sekedar hiburan, film juga bisa menjadi alat propaganda. Kalau Perancis lebih ke aliran formalisme. Menurut Pudovkin, orang Rusia, editing adalah kekuatan kreatif dari realita filmis yang sifat realita tersebut hanya memberikan bahan mentah atau bahan baku yang sesuai. Yang dimaksud dengan bahan baku itu ya shot itu. Yang dimaksud dengan realita filmis adalah kejadian-kejadian yang ada di film, misalnya superman kan bisa terbang cuma di film. Menurut Louis Gianneti, dalam Understanding Movies, secara fisik, editing adalah pekerjaan menggabungkan sebuah pita fim dengan pita film yang lainnya. Dimana akhir suatu shot disambung ke awal shot berikutnya. Sedangkan menurut David Bordwell dan Kristin Thompson, editing adalah suatu gagasan untuk mengkoordinasi dari satu shot ke shot berikutnya. Alm. Sumardjono mengemukakan bahwa editing adalah suatu cara dengan menggunakan shot-shot sebagai materi editing, dan menyusunnya menjadi satu kesatuan film yang utuh, menurut struktur cerita. Dalam dokumenter kayanya definisi tersebut juga berlaku.

 

Peserta 1: kalau dalam dokumenter dikenal gak sih model tiga babak gitu?

Cesa: gak ada, jadi naratif aja. Awalnya gak ada, tapi sekarang dengan kemajuan teknologi, ada juga yang bikin dokumenter dengan tiga babak. Itu gak pa-pa, asal ceritanya sampai ke penonton dan benar. Dokumenter kan harus benar.

OK, balik ke sejarah editing yang tadi, sampai jaman classicism ya. Pada jaman itu editingnya disebut classical cutting. Antara periode classicisme dan formalisme ada yang namanya thematic montage. Montage itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya menyambung, yang juga bagian dari editing. Yang dimaksud dengan thematic montage, adalah kalau ada dua gambar apabila dirangkai akan menimbulkan makna yang berbeda. Rumusnya A ditambah B sama dengan C. Ini sebenarnya berangkat dari pemikiran Marx tentang thesis dan antithesis, apa ya namanya, dialektika-nya Marx. Contohnya thematic montage tu kaya presiden marah, terus disambung sama gunung meletus, maksudnya adalah kemarahan presiden yang dahsyat.

Peserta 1: kalau yang seperti itu, secara teknis beda gak?

Cesa: gak, sama aja. Cuma kalau thematic montage yang dibikin sama Pudovkin itu kan maksudnya biar penonton ketika nonton film itu gak cuma nonton, tapi mikir juga, ini maksudnya apa ya. Selain thematic montage ada yang namanya non diagetic, itu simbol, bukan thematic montage yang tadi.  Dalam perkembangannya, thematic montage jadi macem-macem, ada Hollywood montage, yang ada di film Karate Kid, yang ada adegan  dia latihan, yang seharusnya satu minggu, dijadiin satu menit.

Berikutnya jaman formalisme. Aliran ini melawan semua aliran yang ada sebelumnya. Menurut mereka yang menganut aliran ini, film itu gak harus mikir, gak harus menghibur, dan gak harus realis, jadinya seperti video art. Film-film formalisme gak bercerita, non figurative, gak ada tokoh atau karakternya. Formalisme berusaha untuk menciptakan bentuk yang belum pernah ada.

Peserta 2: kalau editor penekanannya lebih ke teknis atau editorial thinking?

Cesa: editorial thinkingnya. Gue aja, gue belajar editorial thinking dulu baru teknisnya. Karena gue gak mau terjebak dengan teknis terus gue gak punya editorial thinking yang kuat.

Peserta 3: gimana cara untuk ngebangun editorial thinking?

Cesa: banyakin analisa. Lo tonton film, lo analisa. Itu akan terasah dan editorial thinking lo akan kebangun. Coba juga perhatiin sound-nya, bagus gak, nyambung gak. Coba aja, lo matiin sound-nya, kalau lo ngerti ceritanya tanpa suara, itu bagus. Editing yang bagus tu gak kelihatan. Kalau habis nonton film terus ada orang bilang editingnya bagus, itu gagal. Editing yang bagus tu justru yang gak kelihatan kalau film itu di-edit, ceritanya ngalir.

Peserta 1: kalau ada film yang orang bilang musiknya gak cocok, gimana tuh?

Cesa: kalau musik kan yang nentuin editor sama director, sebelum sampai ke music director, editor coba bikin music guide-nya dulu. Kalau kasusnya musik gak pas, berarti kurang komunikasi antara editor dan director. Misalnya AadC, musiknya kan dah jadi duluan, jadi editor yang tau biasanya musiknya yang pas tu yang mana. Makanya sebenarnya editor juga perlu belajar notasi, belajar ritme atau ketukan, biar bisa nyatuin musik sama ceritanya. Jadi musti banyak nonton, banyak dengen musik.

Dipo: kalau untuk dokumenter, untuk garis merah ceritanya itu yang nentuin biasanya siapa?

Cesa: ya dua duanya diskusi. Kadang di lapangan tu kan udah beda banget sama yang di pra produksinya. Itu gak pa-pa.

Dipo: terus batasan yang bikin kita untuk syuting ulang itu apa?

Cesa: untuk doumenter, itu biasanya karena apa yang mau kita bangun itu gak sampai. Biasanya sayang banget, soalnya idenya udah gak bisa diubah lagi, jadi musti syuting ulang.

Dipo: kalau kualitas gambar jelek, tapi suara bagus biasanya kalau di dokumenter kan hajar aja, ambil aja, itu gimana?

Cesa: di dokumenter, moment itu kan penting. Walau gelap gak pa-pa yang penting infonya sampai. Untuk pra produksi dokumenter itu sebenarnya ada yang sama dengan bikin film, treatment-nya sama dengan bikin film.

Dipo: tapi saya pernah lihat sampai dipecah shot-nya jadi banyak banget gitu kan kalau film…

Cesa: kalau di dokumenter, itu karena set-nya yang susah, kan kalau bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Seru sih, ngedit dokumenter. Untuk dokumenter, hasil rough cut-nya selalu tunjukkan ke orang yang baru, yang belum berhubungan dengan film ini sebelumnya. Kalau kita-kita juga yang nonton, udah bikin, ngedit, nonton, jadi mati rasa, semau kita jadinya. Padahal itu belum tentu bisa menyampaikan informasi.

Peserta 1: kalau dokumenter tu bikin dulu narasinya atau gimana?

Cesa: untuk syuting biasanya treatment dulu. Misalnya Keraton Jogja dimana? berarti lo harus bisa jelasin Keraton Jogja itu dimana. Narasi dibikin setelah lo selesai syuting. Jadi ada yang namanya sound man itu kalau di dokumenter dia harus dengerin dan transkrip wawancara kalau ada wawancara. Terus sambil nonton editornya juga nyatet. Sebelum masuk komputer director, asisten director, editor itu diskusi dulu, edit dulu di atas kertas.

Peserta 1: kalau narasi ada tapi gambarnya kurang gimana?

Cesa: biasanya kalau udah paper edit, itu disesuaikan antara narasi dan gambar.

Peserta 1: untuk nentuin dalam dokumenter itu ada naratornya atau gak, terus naratornya muncul atau cuma suara aja itu gimana? apa berdasarkan konsep yang udah dibikin pada saat pra produksi?

Cesa: biasanya dari awal udah dikonsep. Tapi kadang ada juga, yang dari awal udah dikonsep, gak kepake, tapi dalam perjalannya ternyata lo butuh narasi. Intinya if you can show it, don’t say it, dan if you can’t show it, say it.

Peserta 1: kalau untuk komedi gimana?

Cesa: editing comedy is about timing. Kadang ada pemain yang improve dan itu lucu. Itu malah bikin BT editornya, karena akan bermasalah di durasi. Untuk film, improve itu sangat tidak dianjurkan. Jadi ada karantina, latihan dialognya. Improve bisa makan waktu, memperpanjang durasi film.

 

Peserta 2: kalau dokumenter ada durasinya gak?

Cesa: sebenarnya gak ada, tapi kalau lo bikin dokumenter untuk TV, lo harus ikutin batasan durasinya.

Nih, gue catetin tahapan kerja editing dokumenter:

1.   menonton bahan / rushes

2.  logging administrasi. Biasanya setelah syuting, sambil nonton, sambil logging juga, jadi bisa hemat waktu.

3. transkrip: penulisan hasil wawancara di atas kertas. Tugas sound man dan assistant director adalah menulis hasil wawancara secara detail, per kata.

paper edit/paper cut/rencana editing di atas kertas. Dalam proses ini, durasi sudah mulai diperhitungkan. Narasi juga sudah mulai dimasukkan, dipilih dulu mana yang dapat menyampaikan pesa ke penonton dengan efektif. Ini bisa didiskusikan sama director.

assembling: Assemble menurut paper cut. Kadang dalam tahap ini gak perlu diskusi sama director, karena baru dalam tahap masuk-masukin shot di time line, belum jadi satu kesatuan.

6. rough cut: Pas tahap ini, narasi sudah ada. Setelah ini sesuaikan hasil assemble dengan rough cut. Bisa jadi rough cut ikutin narasi, tapi bisa juga sebaliknya.

7.   fine cut: tahap buat ngepasin rough cut. Naa, di sini nih mulai butuh footage, masukin footage. Kadang fine cut tu gak cuma potong-potong, tapi juga nambah-nambahin.

8.  trimming: ni proses buat mempertajam hasil fine cut.

9.  pic-lock: proses terakhir. Kalau udah sampai sini, berarti sudah final, pokoknya sudah OK semua. Setelah Pic. Lock, masuk ke musik. Di sini perlu diskusi sama music director. Setelah musik jadi, tempel lagi, yang nempel editor lagi.

 

OK, kayanya dah cukup ya. Ni mau langsung pulang atau mau nonton film dulu?

Peserta: nonton film dulu lah..

Cesa: ya dah, ni ada film judulnya “Terminal Bar”

Nonton “Terminal Bar”

Dipo: OK, terima kasih, teman-teman atas diskusinya, thanks juga buat Cesa yang dah mau bagi ilmu.

 

REPOST FROM : http://damarstudio.multiply.com/journal/item/25?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s